« December 2006 | Main | February 2007 »

January 29, 2007

Teman Setia

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُواْ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُواْ مِن دُونِ اللّهِ وَلاَ رَسُولِهِ وَلاَ الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS Attaubah 9:016)

sesungghnya yang pantas menjadi teman setia kita hanyalah ALLAH, RasulNYA dan orang2 yang beriman

January 15, 2007

Iman itu kadang naik kadang turun...

Wahai yang membolak balikkan hati...

Palingkanlah hati ini pada ketaatan padaMU

tes kepribadian

***You Are An ESFP***

The Performer

You are a natural performer and happiest when you're entertaining others.
A great friend, you are generous, fun-loving and optimistic.
You love to laugh - and you like almost all people equally.
You accept life as it is, and you do your best to make each day fantastic.

You would make a good actor, designer, or counselor.

What's Your Personality Type?
http://www.blogthings.com/whatsyourpersonalitytypequiz/

Andai Dia Tahu

Perasaan ditindas seringkali muncul. Baik itu ditindas secara lisan maupun dengan perbuatan.

Ketika posisi kita rendah, kita memang mudah dikendalikan dan tidak punya kekuatan.

Ini kurasakan berkali-kali. Seseorang yang berkuasa berusaha untuk 'menindas' golongan tertentu yang dia benci.

Dia sering kali menyakiti hati secara halus maupun kasar. Mendepak orang yang menurut dia akan mengancam. Di sisi lain dia mengajak orang yang akan memperkuat posisinya.

Dalam hati ini timbul kebencian dan bara permusuhan terhadap orang tersebut. Muak rasanya...

Terlebih lagi dengan sikap dan rencana-rencana busuknya yang benar2 membuatku ingin menghajarnya.

Seringkali aku ingin menghindarinya. Hati nuraniku tak bisa menerima permusuhan terselubung seperti ini. Aku benci!!! Aku suka dengan kedamaian, keterbukaan, simpati...

Tapi ini adalah kenyataan yang harus diterima.

Di mana ada pejuang kebenaran, akan selalu ada pejuang kebatilan.

Dan memang itulah pekerjaan para pejuang kebatilan... membuat kerusakan di muka bumi.

Jika tidak ada pejuang kebatilan, tak akan pernah para pejuang kebenaran menjadi pahlawan.

Tahukan kawan, apa yang membuat orang berkuasa ini benci pada golongan itu?

Islam... karena golongan itu adalah golongan orang yang berusaha memegang islamnya dengan teguh.

Andai saja dia tahu... bahwa ISLAM ini agama yang indah...

Tentu dia akan berbalik memperjuangkan Islam dengan seluruh potensi yang dimilikinya.

Andai saja dia tahu bahwa ISLAM inilah jalan kebenaran yang membawanya ke surga...

Tentu dia akan memeluknya dengan erat hingga akhir hidupnya

Andai saja dia tahu bahwa ISLAM bukan agama permusuhan...

Andai saja dia tahu bahwa ISLAM adalah agama yang mampu membangun peradaban di dunia ini...

Andai saja dia tahu bahwa ISLAM adalah janji dia dengan Tuhannya ketika dia masih berada di alam ruh...

Andai saja dia tahu bahwa sebenarnya ISLAMlah yang paling sesuai dengan fitrah dirinya sebagai manusia...

Andai saja dia tahu bahwa ISLAMlah yang membuat dia selamat...

Andai saja dia mengenal siapa diri dan Tuhannya yang sebenarnya...

ya ALLAH sungguh dia orang yang belum paham...

Pahamkanlah dia...

Jadikanlah keturunannya sebagai golongan yang mengerti dan memperjuangkan agamamu...

(teringat akan doa Rasulullah SAW pada penduduk Thaif...)

Allahummashalli ala muhammad wa ala alihi shahbihi ajmaiin

amin

January 12, 2007

gak ada libur :(

"teh, kalo teteh kapan liburnya?"

"waduh :(   kalo kuliah reguler libur, kuliah e-learning g libur dan sebaliknya... jadi gak ada intersection liburnya ..."

__________________________________________________________________________

"teh, entar pulangnya sore ya?"

"ntar siang pulang kok, kan mu ke undangan."

"trus pergi lagi?"

:(  "ya iya.. kan mu ngaji..."

January 08, 2007

UNTUK PARA ORANG TUA/CALON AYAH & BUNDA- ungkapan jujur seorang anak

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak
sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya
memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya
menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas
unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru
tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung
dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.
Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada
Dika:
"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk
mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya
kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk
menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal
dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja
namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih
dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang
menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu
psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke
tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang
dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan
verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca
diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya
berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya
merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain
puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita,
kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir
bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati
permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang
tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan
mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan
jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika
hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa
kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku
ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu"

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang
diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian
membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani
orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis
dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti
itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja
keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu
merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin
menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya
seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan
beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan
bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk
berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah
dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan
jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa
yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami
lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada
kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian
iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan
tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di
waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang
sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut
saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya.
Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang
penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya
dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan
pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya
dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling
hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya
dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia,
orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana,
yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin
ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah
tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah,
pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya
hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa
perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh
anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata
"tersenyum"

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman
tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi
justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan
segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku...."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang
paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang,
tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam
Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku .."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena
sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan
logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena
selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan
hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan
hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak
ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an
Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati
Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah
memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah
anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang
jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua
ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau
marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati
ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di
dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam
ajaran dan nasehat yang baik.
(Ditulis oleh : Lesminingtyas)

My Photo
Powered by Friendster Blogs

May 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31